Cari Blog Ini

Memuat...

30 Juli 2012

SAP dan Leaflet PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH

Buka Link di bawah ini untuk download :
SAP Perilaku Seksual Pranikah
Leaflet Perilaku Seksual Pranikah



SATUAN ACARA PENYULUHAN


Topik       :    Pendidikan Seks Pranikah
Sasaran    :    Remaja Kelurahan Kertajaya - Surabaya 
Hari/Tgl   :   
Waktu      :    30 menit
Tempat     :    Balai Pertemuan Kelurahan Kertajaya - Surabaya

I.              Analisis Situasi
1.1     Peserta diskusi     : Remaja di Kelurahan Kertajaya - Surabaya
1.2     Ruangan Diskusi : 8x6 m dengan penerangan cukup
1.3     Pemberi Materi    : Mahasiwa semester  III Non Reguler Prodi Kebidanan Sutomo Surabaya
II.           Tujuan
2.1    Tujuan Umum:
Setelah mengikuti diskusi kelompok tentang Pendidikan Seks Pranikah, diharapkan remaja di Kelurahan Kertajaya dapat mengerti dan menjelaskan tentang dampak dan kerugian seks pranikah.
2.2    Tujuan Khusus:
Setelah mengikuti diskusi kelompok tentang Pendidikan Seks Pranikah, diharapkan peserta dapat :
2.2.1    Menjelaskan pengertian perilaku seksual dan seks pranikah
2.2.2    Menjelaskan aspek-aspek perilaku seksual pranikah
2.2.3    Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah
2.2.4    Menjelaskan dampak dari perilaku seksual peanikah
2.2.5    Menjelaskan upaya menanggulangi seks bebas di kalangan remaja

III.        Materi
3.1     Definisi pengertian perilaku seksual dan seks pranikah
3.2     Aspek-aspek perilaku seksual pranikah
3.3     Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah
3.4     Dampak dari perilaku seksual peanikah
3.5     Upaya menanggulangi seks bebas di kalangan remaja

IV.        Metode dan Media
4.1  Metode :  Diskusi kelompok
4.2  Media    : Leaflet dan LCD
V.           Kegiatan Diskusi
No.
Topik
Waktu
Kegiatan Diskusi
Kegiatan Peserta
1.
Pembukaan
5 menit
-    Memberikan leaflet

-    Membuka kegiatan diskusi dan mengucapkan salam
-    Menerima dan mem-baca leaflet
-    Menjawab salam
2.
Pelaksanaan
30 menit
-    Menyampaikan sekilas tentang materi yang akan didiskusikan tentang seks pranikah
-    Membentuk kelompok menja-di 4 kelompok
-    Pemandu masuk dalam kelom-pok untuk memandu jalannya kegiatan diskusi dalam kelompok tersebut
-    Pemandu menunjuk ketua dan sekretaris dari kelompok tsb.
-    Menyampaikan materi diskusi
-    Sekretaris membuat kesimpu-lan dari kegiatan diskusi
-    Ketua kelompok menyampai-kan hasil akhir dari kegiatan diskusi di depan forum
-    Memperhatikan


-    Peserta membentuk kelompok menjadi 4
-    Kelompok sangat antusias


-    Memperhatikan

-    Mendengarkan
-    Memperhatikan

-    Peserta memperhati-kan
3.
Evaluasi
5 menit
- Pemandu diskusi kelompok mengevaluasi hasil diskusi dalam kelompoknya
- Replay materi yang telah disampaikan
4.
Penutup
5 menit
-    Kesimpulan dari penyuluhan
-    Evaluasi dari pemimpin diskusi
-    Mengucapkan salam penutup ,mengakhiri pertemuan serta mengucapkan terima kasih
-    Mendengarkan
-    Mendengarkan

-    Menjawab salam
VI.        Kriteria Evaluasi
6.1    Evaluasi Struktur
6.1.1   Kesiapan materi
6.1.2   Kesiapan SAP
6.1.3   Kesiapan media : leaflet dan LCD
6.1.4   Peserta hadir di tempat diskusi
6.1.5   Penyelenggaraan diskusi dilaksanakan di Balai Pertemuan Kelurahan Kertajaya - Surabaya
6.2    Evaluasi Proses
6.2.1   Fase dimulai sesuai waktu yang direncanakan
6.2.2   Peserta antusias terhadap materi diskusi yang ditandai dengan peserta menyampaikan pendapatnya.
6.2.3   Suasana menyenangkan
6.2.4   Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat diskusi sebelum diskusi selesai
6.3    Evaluasi Hasil
6.3.1   Peserta dapat mengulangi materi yang telah diberikan
6.3.2   Peserta dapat memahami tentang seks pranikah dan dampak serta kerugiannya.

VII.     Sumber Buku
Wikjosastro, Hanifa. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Yusuf, Syamsu. 2008. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: Rosda.
Willis, Sofyan. 2000 . Problema Remaja dan Pemecahannya. Bandung: Angkasa
Ramadhani, Dian . 2009. Perilaku Seks Bebas di Kalangan Remaja. [online]. Tersedia: http://shareppba.wordpress.com/ [11 Desember 2010].

VIII.  Pengorganisasian
8.1    Pemimpin Diskusi
Tugas : Wiwit Putri Indah Nastiti
a.       Pembawa acara
b.      Membuka tanya jawab antara pemandu dan peserta yang bertanya
c.       Mengatur jalannya acara yang disajikan
d.      Menyajikan kesimpulan tentang topik yang telah dibahas
e.       Menutup acara
8.2    Pemandu Diskusi Kelompok
Tugas  :    - Diah Agustianingrum        Kelompok I
                 - Ewing Firmadani P.           Kelompok II
                 - Irma Sari Fitriana               Kelompok III
                 - Reza Munica                      Kelompok IV
a. Menyiapkan topik atau pokok yang akan dibahas
b. Menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh peserta yang bertanya


Tata Cara Berdiskusi yang Benar:

Salah satu cara memecahkan permasalahan adalah dengan berdiskusi. Dengan saling bertukar pikiran dan wawasan, permasalahan yang rumit niscaya dapat diuraikan dan pada akhirnya akan diperoleh jalan keluarnya. Proses diskusi akan berjalan secara efektif jika peserta menyadari hakikat diskusi dan memegang teguh prinsip-prinsip pelaksanaan diskusi.
Berikut ini beberapa prinsip berdiskusi yang harus diperhatikan:
1. Diskusi merupakan forum ilmiah untuk bertukar pikiran dan wawasan dalam menyikapi suatu permasalahan yang dihadapi bersama. Diskusi bukan forum untuk berbagi pengalaman (sharing), perasaan (curhat), kepentingan (musyawarah), atau ilmu kepintaran (mengajar).
2. Dalam diskusi, harus terjadi dialog atau komunikasi intelektual dan ilmiah. Dalam hal ini, harus dijauhkan unsur emosional dan mengabaikan kedekatan hubungan personal sehingga terlahir pemikiran – pemikiran yang rasional dan objektif.
3. Diskusi merupakan forum resmi, formal, dan terbuka. Oleh karena itu, proses komunikasi menggunakan bahasa nasional yang baku sehingga dapat dipahami semua kalangan dengan baik. Diskusi bukan forum kekeluargaan yang ditujukan pada kelompok terbatas.
4. Diskusi berlangsung dalam situasi yang tertib, teratur, dan terarah serta bertujuan jelas. Oleh karena itu, diperlukan adanya perangkat dan instrumen pendukung seperti ketua/moderator, notulis, dan tata tertib.  Proses diskusi dikatakan hidup dan sehat jika seluruh peserta terlibat secara aktif dengan mengikuti tatanan yang ada. Sebaliknya, akan dikatakan tidak sehat jika proses bertukar pikiran didominasi oleh satu atau dua pikiran saja.
Menyampaikan gagasan dan tanggapan dengan alasan yang logis dalam diskusi . inti dari kegiatan diskusi adalah terjadinya proses bertukar pikran antar peserta diskusi . peserta diharap menyampaikan pendapatnya terhadap permasalahan yang di hadapi selanjutnya pendapat tersebut harus disampaikan oleh peserta lain . bermacam- macam bentuk tanggapan dapat disampaikan , misalnya dengan mempertahankan maksud dari pendapat tersebut jika dianggap belum jelas. Tanggapan juga dapat disampaikan dengan menyatakan sikap setujuatau tidak setuju/ mendukung atau tidank mendukung terhadap pendapat yang telah di kemukakan. Munculnya berbagai sikap dan pikiran dan tanggapan yg berbeda – beda itu merupakan hal yang positif dalam kegiatan berdiskusi.


MATERI DISKUSI
PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH


1.        Definisi
Menurut PKBI (1981) pengertian perilaku seksual adalah segala bentuk kegiatan yang dapat memberikan penyaluran pada dorongan seksual yang dilakukan oleh dua orang yang berjenis kelamin berbedamulai dari bermesraan, bercumbu, sampai dengan berhubungan kelamin
Sarwono (2000) mengatakan bahwa perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual dengan lawan jenis mulai dari perasaan tertarik sampai dengan tingkah laku berkencan,bercumbu sampai bersenggama. Lebih lanjut, perilaku seksual merupakan perilaku yang bersifat alami ataumanusiawi karena setiap manusia memiliki dorongan seksual dan hal tersebut normal jika dilakukan sesuaidengan norma yang berlaku.
Ditambahkan oleh Knox (dalam Aryani, 2005) bahwa perilaku seksual tidakhanya sebagai peristiwa menyatunya alat kelamin laki-laki dengan alat kelamin perempuan saja tetapi jugadiartikan sebagai komunikasi yang terjadi untuk berbagai macam alasan dan dalam konteks yang berbeda;sebelum menikah; selama menikah; di luar menikah; dan setelah menikah, tergantung pada kualitas pernikahan.Lebih lanjut, perilaku seksual merupakan salah satu media berkomunikasi yang terjadi antara laki-laki danperempuan sebagai manifestasi dari dorongan seksual. Perilaku seksual dimulai dari perasaan tertarik sampaipada akhirnya keduanya terlibat dalam hubungan seksual .
Sementara itu, dalam website e-psikologi (2007) dikatakan bahwa perilaku seksual merupakan perilaku yang melibatkan sentuhan secara fisik anggota badan antara pria dan wanita yang telah mencapai pada tahaphubungan intim, yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri, sedangkan perilaku seks pranikahmerupakan perilaku seks yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun menurut agama dan kepercayaan masing-masing individu.
Menurut Kartono (1992) perilaku seksual pranikah adalah perilaku seksual yang dilakukan sebelum adanya ikatan perkawinan yang sah. Perilaku ini dapat dikategorikan sebagai perilaku yang menyimpang, sebabperilaku seksual yang dilakukan di luar perkawinan tersebut merupakan perbuatan berzina. Norma-norma yangberlaku hanya membenarkan perilaku seksual jika sudah ada ikatan perkawinan yang sah antara dua orang yangberlawanan jenis kelamin.
Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan perilaku seksual pranikah adalah suatu perbuatan yang dapat diobservasi baik secara lansung maupun tidak langsung, yangdilakukan oleh dua individu berjenis kelamin berbeda, mulai dari berkencan, bercumbu sampai bersenggama, tetapi belum ada ikatan yang sah menurut norma, hukum, ataupun agama.

2.        Aspek-aspek Perilaku Seksual Pranikah
Menurut PKBI (1998) aspek-aspek perilaku seksual pranikah adalah:
a. Bermesraan
Aspek ini mengungkap aktivitas psikologis dua individu yang berlainan jenis dalam kesamaan tujuan untuksaling berbagi rasa yang diungkap dalam kata-kata manis, pandangan mata yang mesra, namun belumsampai pada aktivitas bercumbu. Bermesraan di sini dilakukan oleh dua orang, yaitu pemuda dan pemudiyang ditandai dengan adanya ketertarikan afeksional (saling mencintai) yang telah dinyatakan di antarakeduanya, tetapi belum sampai pada tingkat pertunangan.
b. Bercumbu
Aspek ini mengungkap pendekatan-pendekatan jasmaniah yang dilakukan, seperti saling memegang,berciuman, berpelukan atau berangkulan, saling tempel alat kelamin, yang dapat membangkitkan gairahseksual, tetapi belum sampai pada hubungan kelamim.
c. Hubungan kelamin
Hubungan kelamin berarti melakukan kegiatan senggama. Hubungan kelamin adalah hubungan yangdilakukan oleh dua orang yang berbeda jenis kelamin, dengan kegiatan memasukkan penis ke dalam vaginadan masing-masing orang akan memperoleh kepuasan.

3.        Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Pranikah
Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap perilaku reproduksi remaja diantaranya adalah faktor keluarga. Remaja yang melakukan hubungan seksual sebelum menikah banyak diantara berasal dari keluarga yang bercerai atau pernah cerai, keluarga dengan banyak konflik dan perpecahan (Kinnaird, 2003). Hubungan orang-tua yang harmonis akan menumbuhkan kehidupan emosional yang optimal terhadap perkembangan kepribadiananak sebaliknya. Orang tua yang sering bertengkar akan menghambat komunikasi dalam keluarga, dan anak akan ³melarikan diri³ dari keluarga. Keluarga yang tidak lengkap misalnya karena perceraian, kematian dan keluarga dengan keadaan ekonomi yang kurang, dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak (Rohmahwati, 2008).
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah pada remaja paling tinggi hubungan antara orang tua dengan remaja, diikuti karena tekanan teman sebaya, religiusitas, dan eksposur media pornografi (Soetjiningsih, 2006).
Beberapa faktor lain yang mempengaruhi perilaku seksual pada remaja adalah perubahan hormonal, penundaan usia perkawinan, penyebaran informasi melalui media massa, tabu-larangan, norma-norma di masyarakat, serta pergaulan yang makin bebas antara laki-laki dan perempuan (Sarwono, 2003)
Menurut para ahli, faktor-faktor yang mempengaruhi remaja untuk berperilaku seksual pranikah yaitu:
a. Faktor fisik
Sarwono (2000) menyatakan bahwa mulai berfungsinya hormon-hormon seksual dapat meningkatkandorongan seksual yang harus disalurkan sehingga keinginan remaja untuk berperilaku seksual semakin kuat.
b. Pengaruh orangtua
PKBI (2000) mengemukakan bahwa kurangnya komunikasi secara terbuka antara orangtua dengan remajadalam masalah seputar seksual dapat mengakibatkan munculnya perilaku seksual menyimpang. Markum(1997) menambahkan, bahwa pendidikan seks pasif (tanpa komunikasi dua arah) bisa mempengaruhi sikapserta perilaku seseorang, karena dalam pendidikan seks anak tidak cukup hanya melihat dan mendengarsekali atau dua kali, tapi harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Orangtua wajib meluruskan informasi yang tidak benar disertai penjelasan risiko perilaku seks yang salah.
c.  Pengaruh alat kontrasepsi
Menurut Sarwono (1981) dengan banyak beredarnya alat kontrasepsi secara bebas di pasaran serta mudahdiperoleh oleh siapa saja tanpa adanya batasan yang tegas, seringkali disalahgunakan oleh para remaja terutama untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangannya.
d. Pergaulan bebas
Sarwono (2000) mengatakan bahwa para remaja mempunyai banyak kebebasan dalam bergaul denganteman sebaya terutama pergaulan dengan lawan jenis. Pergaulan yang semakin bebas tanpa adanya suatu pengendalian pada diri remaja dapat menimbulkan perilaku seksual pranikah.
e. Pengaruh media
Penyebaran informasi tentang masalah seksual melalui media cetak atau elektronik yang menyuguhkangambar porno, film porno, dan semua hal yang berbau pornografi, dapat menyebabkan perilaku seksual pranikah pada remaja semakin meningkat (Sarwono, 2000).

4.        Dampak dari Perilaku Seks Pranikah
Perilaku seksual pranikah dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada remaja, diantaranya sebagai berikut :
a. Dampak psikologis
Dampak psikologis dari perilaku seksual pranikah pada remaja diantaranya perasaan marah, takut, cemas, depresi, rendah diri, bersalah dan berdosa.
b. Dampak Fisiologis
Dampak fisiologis dari perilaku seksual pranikah tersebut diantaranya dapat menimbulkan kehamilan tidak diinginkan dan aborsi. Kehamilan pada remaja sering disebabkan ketidaktahuan dan tidak sadarnya remaja terhadap proses kehamilan. Bahaya kehamilan pada remaja:
-       Hancurnya masa depan remaja tersebut.
-       Remaja wanita yang terlanjur hamil akan mengalami kesulitan selama kehamilan karena jiwa dan fisiknya belum siap.
-       Pasangan pengantin remaja, sebagian besar diakhiri oleh perceraian (umumnya karena terpaksa kawin karena nafsu, bukan karena cinta).
-       Pasangan pengantin remaja sering menjadi cemoohan lingkungan sekitarnya.
-       Remaja wanita yang berusaha menggugurkan kandungan pada tenaga non medis (dukun, tenaga tradisional) sering mengalami kematian strategis.
-       Pengguguran kandungan oleh tenaga medis dilarang oleh undang-undang, kecuali indikasi medis (misalnya si ibu sakit jantung berat, sehingga kalau ia meneruskan kehamilan dapat timbul kematian). Baik yang meminta, pelakunya maupun yang mengantar dapat dihukum.
-       Bayi yang dilahirkan dari perkawinan remaja, sering mengalami gangguan kejiwaan saat ia dewasa.
c. Dampak sosial
Dampak sosial yang timbul akibat perilaku seksual yang dilakukan sebelum saatnya antara lain dikucilkan, putus sekolah pada remaja perempuan yang hamil, dan perubahan peran menjadi ibu. Belum lagi tekanan dari masyarakat yang mencela dan
menolak keadaan tersebut (Sarwono, 2003).
d. Dampak fisik
Dampak fisik lainnya sendiri menurut Sarwono (2003) adalah berkembangnya penyakit menular seksual di kalangan remaja, dengan frekuensi penderita penyakit menular seksual (PMS) yang tertinggi antara usia 15-24 tahun. Infeksi penyakit menular seksual dapat menyebabkan kemandulan dan rasa sakit kronis serta meningkatkan risiko terkena PMS dan HIV/AIDS.

5.        Upaya untuk Menanggulangi Seks Bebas di Kalangan Remaja
Orangtua sebagai penanggung jawab utama terhadap perilaku anak, harus menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dalam keluarganya. Orang tua sejak usia dini harus menanamkan dasar yang kuat pada diri anak bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Jika konsep hidup yang benar telah tertanam maka remaja akan memahami jati dirinya, menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya, mengerti hubungan dirinya dengan lingkungaanya. Kualitas akhlak akan terus terpupuk dengan memahami batas-batas nilai, komitmen dengan tanggung jawab bersama dalam masyarakat. Remaja akan merasa damai di rumah yang terbangun dari keterbukaan, cinta kasih, saling memahami di antara sesama keluarga. Pengawasan dan bimbingan dari orang tua dan pendidik akan menghindarkan dari pergaulan bebas. Orang tua harus terus mengawasi dan mengontrol perkembangan perilaku remaja.
Serta pendidikan seks harus diberikan sejak dini agar mereka sadar bagaimana menjaga supaya organ-organ reproduksinya tetap sehat. Sebenarnya dalam masalah reproduksi ini, peran orang tua dan guru diharapkan lebih menonjol karena bagaimanapun juga mereka juga berperan sebagai filter atau penyaring bagi informasi yang akan diberikan kepada remaja, berbeda bila informasi diperoleh dari media masa yang sering kali tanpa penyaringan terlebih dahulu. Dalam upaya pemberian informasi mengenai masalah reproduksi bagi remaja, khususnya di sekolah, perlu peran guru ditingkatkan. Untuk itu ingin diketahui seberapa jauh pengetahuan guru, khususnya guru bimbingan dan konseling. Diharapkan guru Bimbingan dan Konseling nantinya dapat berperan sebagai nara sumber di sekolah (tempat kerja) dan memberikan informasi yang benar mengenai hal-hal tersebut. Serta diadakan konseling seksualitas remaja.
Ada beberapa solusi, di antaranya, pertama, membuat regulasi yang dapat melindungi anak-anak dari tontonan yang tidak mendidik. Perlu dibuat aturan perfilman yang memihak kepada pembinaan moral bangsa. Oleh karena itu Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) harus segera disahkan.
Kedua, orangtua sebagai penanggung jawab utama terhadap kemuliaan perilaku anak, harus menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dalam keluarganya. Kondisi rumah tangga harus dibenahi sedemikian rupa supaya anak betah dan kerasan di rumah.
Berikut petunjuk-petunjuk praktis yang diberikan Stanley Coopersmith (peneliti pendidikan anak), kepada orangtua dalam mendidik dan membina anak. Pertama, kembangkan komunikasi dengan anak yang bersifat suportif. Komunikasi ini ditandai lima kualitas; openness, empathy, supportiveness, positivenes, dan equality. Kedua, tunjukkanlah penghargaan secara terbuka. Hindari kritik. Jika terpaksa, kritik itu harus disampaikan tanpa mempermalukan anak dan harus ditunjang dengan argumentasi yang masuk akal.
Ketiga, latihlah anak-anak untuk mengekspresikan dirinya. Orangtua harus membiasakan diri bernegosiasi dengan anak-anaknya tentang ekspektasi perilaku dari kedua belah pihak. Keempat, ketahuilah bahwa walaupun saran-saran di sini berkenaan dengan pengembangan harga diri, semuanya mempunyai kaitan erat dengan pengembangan intelektual. Proses belajar biasa efektif dalam lingkungan yang mengembangkan harga diri. Intinya, hanya apabila harga diri anak-anak dihargai, potensi intelektual dan kemandirian mereka dapat dikembangkan.
Selain petunjuk yang diberikan Stanley di atas, keteladanan orangtua juga merupakan faktor penting dalam menyelamatkan moral anak. Orangtua yang gagal memberikan teladan yang baik kepada anaknya, umumnya akan menjumpai anaknya dalam kemerosotan moral dalam berperilaku

4 komentar:

  1. pelitttt, save page ja kgak bolee, payah lw

    BalasHapus
    Balasan
    1. SUDAH SAYA SEDIAKAN LINK UNTUK DOWNLOAD.. LEBIH BAIK ANDA BELAJAR MEMBACA DULU SEBELUM BERKOMENTAR .. Terimakasih !!

      Hapus
  2. gax ada guna nya ilmu kalau gx mau bagi2,,,,
    pelit loe,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. MAAF YA !! SUDAH SAYA SEDIAKAN LINK UNTUK DOWNLOAD.. LEBIH BAIK ANDA BELAJAR MEMBACA DULU SEBELUM BERKOMENTAR .. Terimakasih !!

      Hapus