02 Januari 2013

CARA PENANGGULANGAN NYERI PERSALINAN



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Nyeri persalinan merupakan pengalaman subjektif tentang sensasi fisik yang terkait dengan kontraksi uterus, dilatasi dan penipisan serviks, serta penurunan janin selama persalinan. Respon fisiologis terhadap nyeri meliputi peningkatan tekanan darah, denyut nadi, pernapasann, keringat, diameter pupil, dan ketegangan otot.
Berbagai upaya dilakukan untuk menurunkan nyeri pada persalinan, baik secara farmakologi maupun nonfarmakologi. Manajemen nyeri secara farmakologi lebih efektif dibanding dengan metode nonfarmakologi namun metode farmakologi lebih mahal, dan berpotensi mempunyai efek yang kurang baik ( Dickersin, 1989).
Sedangangkan metode nonfarmakologi bersifat nonintrusif, noinvasif, murah, simple, efektif dan tanpa efek yang merugikan (Burns & Blamey, 1994; Cook & Wilcox, 1997). Metode nonfarmakologi juga dapat meningkatkan kepuasan selama persalinan karena ibu dapat mengontrol perasaannya dan kekuatannya (Mackey,1995)
Relaksasi, teknik pernapasan, pergerakan dan perubahan posisi, massage, hidroterapi, terapi panas/dingin, musik, guided imagery, akupresur, aromaterapi merupakan beberapa teknik nonfarmakologi yang dapat meningkatkan kenyamanan ibu saat bersalin dan mempunyai pengaruh pada koping yang efektif terhadap pengalaman persalinan. Penelitian yang dilakukan oleh Sylvia T. Brown, EdD, RN, Carol Douglas, MSN, RN, and LeeAnn Plaster Flood, MSN, CNM pada tahun 2001, menggunakan 10 metode nonfarmakologi yang dilakukan pada sample 46 orang didapatkan bahwa teknik pernapasan, relaksasi, akupresur dan massage merupakan teknik yang paling efektif menurunkan nyeri saat persalinan.
Akupresur merupakan salah satu teknik nonfarmakologi yang paling efektif dalam manajemen nyeri persalinan. Akupresur disebut juga akupunktur tanpa jarum, atau pijat akupunktur. Teknik ini menggunakan tenik penekanan, pemijatan, dan pengurutan sepanjang meridian tubuh atau garis aliran energi. Teknik akupresur ini dapat menurunkan nyeri dan mengefektifkan waktu persalinan.

1.2  Rumusan masalah
1.2.1         Bagaimana cara mengatasi nyeri pada persalinan?
1.2.2         Metode apa saja yang dapat di gunakan untuk mengurangi nyeri pada perslainan?

1.3  Tujuan
1.3.1         Tujuan umum
1.3.1.1 Mampu mengetahui cara untuk menanggani nyeri persalinan

1.3.2         Tujuan khusus
1.3.2.1   Mampu menjelaskan cara mengatasi nyeri persalinan
1.3.2.2   Mampu menyebutkan metode-metode mengatasi nyeri persalinan

1.4  Manfaat
Manfaat yang ingin di peroleh dari pembentukan makalah ini.
1.4.1        Mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana cara mengatasi nyeri pada  persalinan
1.4.2        Mendapatkan pengetahuan cara-cara untuk mengatasi nyeri pada persalinan





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Berbagai cara yang dipakai untuk menghilangkan atau mengurangi nyeri persalinan dapat dibagi sebagai berikut :

2.1         Cara Non Farmakologi
 Psikologik
Disini ibu sudah dipersiapkan secara mental pada setiap kunjungan pemeriksaan hamil atau pada kelas persiapan dan biasanya juga dihadiri bersama suami. Cara psikoprofilaktik ini bila dapat berlangsung dengan baik merupakan cara yang ideal. Selama tiga dekade terakhir makin banyak minat untuk menerapkan cara penanggulangan nyeri pada persalinan tanpa memakai obat-obatan.
Pada beberapa kebudayaan yang berbeda seperti di pedalaman Mexico, dimulainya kontraksi yang teratur pada ibu bersalin ditandai dengan mulainya pesta. Ibu yang melahirkan dirumah dikelilingi oleh tari-tarian, nyanyian, minum-minum diantara teman dan sahabat. Tak seorang pun yang menyuruh ibu tersebut untuk berbaring, dan terlentang. Apapun yang dilakukannya dan yang dilakukan orang lain biasanya bayi akan lahir. Hal ini menjadi pertentangan diantara para ahli di negara barat. Ahli kebidanan mulai belajar dari pengalaman bahwa apa yang dirasakan baik oleh ibu tersebut adalah baik. Jika ibu tersebut ingin berjalan-jalan, berdiri, duduk, atau jongkok hal itu akan menolongnya dan mengurangi rasa nyeri.
Pada penelitian terhadap 700 wanita di inggris hampir semua menginginkan pemakaian obat analgesia yng minimal walaupun mereka akan mendapatkan nyeri yang cukup atau sangat kuat. Untuk mencegah pemakaian obat mereka mengikuti kelas pendidikan dan sosial serta latihan pernafasan dan relaksasi dan mereka lebih puas dibandingkan dengan yang memakai obat-obatan. Alasan yang dikemukakan adalah ketidakpuasaan akan persalinan sebelumnya, dan emosi yang buruk postpartum
(Madi;28) pada penelitiannya terhadap 109 wanita bersalin yang dibagi dalam kelompok dua kelompok, dimana kelompok pertama ibu bersalin didampingi oleh seorang anggota keluarga. Dan kelompok kedua tanpa didampingi anggota keluarga. Hasilnya diperoleh bahwa pada kelompok kelola (di dampingi keluarga) dijumpai 91% persalinan spontan disbanding 71 % pada kelompok kontrol. Kelompok kelola membutuhkan 13 % oksitosin sedang pada kelompok kontrol 30 %. Secara statistik berbeda bermakna.
Prosedur terapi psikologik meliputi latihan fisik dan mental, latihan cara pernapasan selama persalinan dan relaksasi otot – otot selama kontraksi rahim.prosedur terapi psikologik terutama memakai metode psikodinamik seperti : sugesti, motivasi, atensi, gistraksi yang dapat menghilangkan ketegangan dan ketakutan dan mengendalikan perasaan nyeri.
Kerugian cara ini antara lain : hanya sejumlah kecil yang mengalami true analgesia selama persalinan. Ternyata persiapan memerlukan banyak waktu dari dokter spesialis kebidannan dan personel medis lain dan pada penderita yang emosinya labil. Penerapan cara ini dapat menyebabkan gangguan psikiatrik berupa hyperventilasi yang diterapkan secara salah yang berakibat alkalosis respiratorik.

  1. Transcutaneous Electrica Nerve Stimulation, (TENS)
Merupakan salah satu cara menanggulangan nyeri persalinan non farmakologi yang cara kerjanya terdiri dari penutupan pintu gerbang ke jalur impuls nyeri, yang telah terbukti terjadi akibat tembakan – tembakan impuls – impuls listrik pada ambang nyeri bawah. Tembakan – tembakan, yang dirasakan sebagai syok listrik ringan dihasilkan oleh aliran generator portable yang dikendalikan oleh ibu.
Mekanisme penting dari TENS adalah untuk menstimulasi pe;epasan endorphin, yang merupakan salah satu kelompok peptide yang menyerupai apoiat yang diproduksi secara fisiologis. Dalam persalinan, ibu mengatur aliran generator TENS dibawah ambang nyeri dan mempertahankannya selama kontraksi. Riset mengenai keefektifan TENS, seperti metode “komplementer” lainnya, dipenuhi dengan kerumitan metodologis. Dengan demikian, sangat banyak ketidakpastiaan tentang kemanfaatan TENS pada saat kelahiran. Pengecualian terhadap ketidakpastian itu ditunjukkan melalui penelitian yang dilakukan Harisan 1987 dengan menggunakan metode penelitian terkendali acak dobel blind yang diikuti oleh 150 ibu sebagai partisipan. Hal ini menunjukkan bahwa ibu yang menggunakan TENS cenderung lebih jarang menggunakan bentuk analgesic lain, mengidentifikasikan adanya efek menguntungkan dan memuaskan yang sangat besar.

  1. Akupuntur
Sampai saat ini peranannya masa kecil dalam penanggulangannyeri pada persalinan, karena hasilnya sangat bervariasi dan kurang dapat diharapkan.
Cara kerja akupuntur telah di duga memiliki satu atau lebih dari empat mekanisme dibawah ini ( Simkin,1989) :
·         Pertama, efek psikologis yang terkait dengan komponen budaya dan perlunya persiapan akupuntur, hal ini sebanding dengan pendidikan kelahiran (Chapman,1984).
·         Kedua, penderian yang kuat bahwa kerja akupuntur menyebabkan pusat saraf yang lebih tinggi “menutup pintu genbang” jalur impuls nyeri (Mellzack, 1975).
·         Ketiga, jarum akupuntur mengaktifasi mekanisme penghambat rasa nyeri disusunan saraf pusat (Bond, 1979). Mungkin produksi opioid endogen didalam batang otak ditingkatkan oleh akupuntur. Arthuts (1994) mendukung pernyataan ini melalui observasi terjadix efek sidasi dalam satu jam setelah akupuntur.
·         Keempat, penutupan gerbang impuls nyeri mungkin dengan cara penghambat presinaps saraf sensorik pada tingkat ganglion dorsalis akibat stimulasi serat saraf sensorik berdiameter besar.
Keuntungan psikologis akupuntur terlahir melalui riset laboratorium (yang et all. 1984) yang menunjukkan bahwa efek analgesic akupuntur berlangsung hanya selama stimulasi akupuntur dilakukan. Hal ini mengingatkan pada keuntungan masase yang relative singkat. Namun, seperti masase, respon emosional, yaitu tidak dibuat menderita oleh nyeri, telahterbukti bertahan lebih lama.
Keefektifan akupuntur telah ditunjukkan pada orang yang menderita nyeri kronik Gunn (1990), yang menemukan bahwa 50 – 80 % sampel menyatakan etifkegunaannya. Gambaran ini dapat dibandingkan dengan orang – orang yang menggunakan akupuntur pura – pura, yang memiliki keekfektifan 50 % dan pengendali placebo yang 30 % menyatakan adanya pengurangan nyeri.

  1. Hipnoterapi




Baca lengkapnya di sini
atau di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar